Selasa, 29 April 2014

Menjaga Seni dan Budaya Papua Demi Keutuhan NKRI




Provinsi Papua yang terletak di ujung timur negara Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang unik dan menarik. Seni dan budaya merupakan jati diri dan identitas dari suatu negara. Pemerintah Indonesia harus menjaga kekayaan seni dan budaya yang dimiliki dari Sabang sampai Merauke, hal tersebut sangat penting dilakukan agar budaya yang dimiliki Indonesia tidak diklaim oleh negara lain.

Gubernur Papua Lukas Enembe dalam acara pelantikan Dewan Kesenian Tanah Papua (DKTP) yang baru periode 2014-2019, menyampaikan bahwa seni dan budaya yang ada di Bumi Cenderawasih akan dipatenkan. Kebudayaan yang ada di Papua baik seni tari, seni pahat, sanggar-sanggar yang dimiliki kelompok dan keluarga akan didata dengan baik agar kekayaan budaya yang Papua miliki agar tetap utuh dalam bingkai NKRI.


Gubernur juga menekankan untuk menjaga dan melestarikan habitat burung cenderawasih yang merupakan burung khas dari Papua. Dewan Kesenian Tanah Papua diharapkan mampu membuat aksesoris dari burung cenderawasih yang menggunakan bahan yang imitasi, sehingga keberadaan burung cenderawasih di Papua tidak punah.


Ketua Umum DKTP, Nomensen Mambraku sangat antusias mendengarkan arahan dan penjelasan Gubernur Papua. Ketua Umum DKP akan mensinergikan program dan kebijakan pemerintah “ Papua bangkit, mandiri dan sejahtera “ dengan kegiatan organisasi sehingga dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga dan melindungi seni budaya yang ada di Papua. Budaya Papua merupakan budaya leluhur yang sudah ada yang harus dijaga diatas bumi persada Nusantara karena merupakan ciri dan identitas orang Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selasa, 18 Februari 2014

Arti Penting Pancasila Bagi Rakyat Papua



Masyarakat Papua sangat bangga dan yakin akan arti penting bahwa Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara, falsafah hidup, juga sebagai alat pemersatu bangsa yang “Bhinneka Tunggal Ika” di tengah era globalisasi yang penuh dengan dinamika dan fenomena kehidupan baru.


Mencermati isu-isu yang berkembang akhir-akhir ini, terdapat beberapa isu negatif yang menerpa kehidupan masyarakat Papua, diantaranya penembakan terhadap tukang ojek di Kampung Wuyuneri, Kabupaten Puncak Jaya, Papua yang terjadi Selasa (7/1/2014) lalu, penembakan pesawat maskapai Susi Air oleh kelompok sipil bersenjata di kawasan Mulia, Papua Pesawat itu hendak keluar dari Mulia menuju Nabire, Papua terjadi pada hari selasa, 7/1/2014 sekitar pukul 12.00 WIT, kontak tembak terjadi antara pasukan TNI dari Batalyon 751 Raiders dengan kelompok sipil bersenjata, di Kabupaten Puncak Jaya Papua, Jumat (24/1/2014). Pada saat kontak terjadi,  satu anggota dari kelompok sipil bersenjata tewas dan disita satu pucuk senjata api, satu anggota TNI juga gugur atas nama prajurit satu Sugiarto. Aparat keamanan gabungan TNI – Polri melakukan penangkapan terhadap anggota TPN – OPM atas nama Oki Talenggeng dari kelompok Yambi Distrik Mulia pada Minggu 26 Januari 2014 di daerah Kp. Dondobaga Distrik Mulia Puncak Jaya. Kelompok TPN OPM tersebut berlari kabur setelah melakukan penembakan terhadap aparat TNI – Polri, ada yang melarikan ke ketinggian dan untuk Oki Talenggeng salah satu anggota TPN OPM berlari masuk ke dalam yang diperkirakan membawa senjata dan bersembunyi didalam gereja. Kemudian pihak keamanan gabungan TNI- Polri mengepung gereja dan menunggu sampai kegiatan agama selesai. Pada Jumat 7 Februari 2014 pukul 07.00 WIT di Kampung Kulirik Puncak Jaya KKB kelompok Yambi pimpinan Leka Talenggen melakukan pembakaran Honai milik masyarakat. Perlu disadari bahwa perbuatan segelintir masyarakat yang berbeda paham tersebut telah  merusak kredibilitas dan citra Papua, yang selama ini Papua terkenal akan kedamaian maasyarakat dan keindahan alamnya.

Hal ini tidak boleh terjadi, “karena nila setitik, maka rusak susu sebelanga”. Oleh karena  itu  kepada seluruh masyarakat Papua dimanapun berada untuk berjalan, bergandeng tangan dan bekerja di atas peraturan pemerintah. Mari kita jaga nama baik Papua serta senantiasa membangun Tanah Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Rabu, 12 Februari 2014

Kekuatan Militer Indonesia di Mata Internasional


Dalam 10 tahun terakhir ini banyak kemajuan kekuatan dan persenjataan TNI berkembang sangat signifikan sejalan dengan kebijakan Presiden SBY sejalan dengan kebijakan Presiden SBY untuk membangun kekuatan pokok minimum atau Minimum Essential forces. pemerintah mengalokasikan anggran pertahanan setiap tahun meningkat bahkan anggaran untuk pertahanan dalam APBN 2013 mendapatkan alokasi yang terbesar. Peningkatan anggaran pertahanan terus meningkat tajam dari tahun 2004 Rp 21,42 trilliun menjadi 83, 4  triliun lebih pada tahun 2014 ini mengalami peningkatan hampir 400%.

Peningkatan anggaran tersebut sejalan dengan membaiknya kondisi ekonomi Indonesia,  dan nilai APBN kita yang terus meningkat serta tantangan menjaga kedaulatan NKRI yang semakin berat. Sebagaimana ditegaskan oleh Presiden SBY, Modernisasi alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI semata-mata untuk menjaga kedaulatan NKRI serta menjaga keamanan regional maupun kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.

Peningkatan kekuatan pertahanan ini juga diharapkan akan mengembalikan Indoensia sebagai”macan asia” dalam bidang militer. Pada era Soekarno Indonesia dikenal sebagai Macan Asia  untuk milter dan politiknya.

Sejak tahun 2004 secara bertahap pemerintah melakukan modernisasi alutsista TNI yang dilakukan dengan pengadaan peluru kendalai komposit grom meriam 23 mm untuk jajaran AD, jajaran TNI AL diperkuat LPD, TNI AU dengan Retrofit pesawat C-130B, Batch-III Pesawat Helikopter NAS-332 Super Puma, Senjata dan Amunisis Pesawat Sukhoi-27 SK/30MK. Kemudian tahun-tahun berikutnya Alutsista TNI diperkuat dengan Helicopter Mi-35P dan Mi-17 V-5, Kendaraan Tempur Panser Canon, Peluru kendali pengganti Rapier, Peluru kendali Jarak Pendek QW3, Meriam kal 30 mm 7 barrel, Korvet kelas Sigma, exocet MM-40+ Mistral, Tank Amfibi BMP-3F, Pesawat patroli maritim, kapal perusak kawal rudal, pesawat C-130, pesawat tempur SU 27/30 Sukhoi, senjata dan amunisi pesawat Sukhoi-27Sk/30 Mk, pesawat Embraer EMB 314 Super Tucano sebagai pesawat Pengganti OV-10 dan follow on support. Selain itu Mabes TNI juga melakukan pengadaan pesawat tanpa awak, alat komunikasi khusus bagi pasukan khusus, pengembangan K3I Kosek Hanudnas IV dan lain nya.

Dalam percaturan dunia, Indonesia dikenal oleh Internasional sebagai negara yang paling aktif berpartisipasi dalam menjaga perdamaian dunia, dan Indonesia tercatat dalam laporan PBB menempati urutan ke 15 dari 177 negara yang paling banyak mengirimkan prajuritnya. Pertama kalinya juga Indonesia melibatkan prajurit wanita sebagai pasukan misi PBB .
Lembaga Analisa Militer Global Firepower merilis kekuatan Indonesia kini berada di urutan ke-15 dunia sejak Juni 2013, tapi dari segi kemampuan tempur prajurit Indonesia masuk dalam 3 Besar dunia (Kopasus) setelah Inggris dan Israel. Sebelumnya pada tahun 2011 Indonesia masih berada di peringkat 18 Besar dunia. Untuk Kawasan Asia Pasifik, Indonesia tercatat sebagai negara terkuat Nomor 7, jauh di atas malaysia urutan ke 33 dan Singapura urutan ke 47.

Penambahan sejumlah alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang dibeli Kementrian Pertahanan membuat Militer kita makin bergigi di darat, laut dan udara. Ada 40 indikator dalam situs globalfirepower.com. Untuk persenjataan darat, situs ini menghitung jumlah tank, meriam hingga truk angkut pembekalan. Untuk aspek laut, jumlah kapal perusak, kapal induk, kapal selam. Di udara jumlah jet tempur, helikopter dan sarana pendukung airport. Tak hanya itu globalfirepower.com juga memperhitungkan jumlah penduduk, luas negara, produksi minyak hingga jumlah air port, jaringan rel kereta api dan pelabuhan laut.



Senin, 10 Februari 2014

Tentara PNG Bakar Speed Boat Nelayan Merauke

Kejam dan Tidak Berprikemanusiaan.  Berang kali itulah kata yang pantas dialamatkan kepada sejumlah Tentata Negara tetangga Papua New Guinea (PNG) ini. Betapa tidak,  dengan kejamnya membakar Speed Boat milik nelayan asal Indonesia (warga Merauke) di tengah laut lalu penumpangnya ditinggalkan begitu saja. Beruntung ada 5 dari 10 nelayan asal Merauke ini  berhasil menyelamatkan diri setelah berjuang dengan melawan maut berenang sekitar 5 kilo meter. Sementara 5 orang lainnya belum diketahui nasibnya. Diduga mereka sudah tenggelam lantaran mereka tidak tahu berenang, apalagi  dengan jarak yang cukup jauh dengan cuaca di laut yang berombak. Tak hanya itu,  tentara PNG yang diperkirakan 10-12 orang ini juga dikabarkan menjarah barang-barang dan uang milik para korban (nelayan Indonesia) tersebut. 

Peristiwa ini terjadi Kamis (6/2/2014) sekitar pukul 17.00 WITdi Laut Karu, PNG.Ke-10 warga itu merupakan nelayan pembeli hasil laut berupa teripang dan gelembung ikan di negara tetangga, PNG. mereka adalah Antonius Kanis Basik Basik (26) warga Lampu Satu, Alexander Tjoa (38) warga Seringgu, Ferdi Tjoa (24) warga Seringgu, Roby Rahel (39) warga Bambu Pemali, Jhon Kaize (41) warga Lampu Satu, Vikar (17) warga Seringgu, Marselinus Maya Gebze (17) warga Nasem, Andreas Mahuze (26) Warga Nasem, Yakobus Ngge Mahuze (25) warga Nasem dan Silvester Ku Basik Basik (27) warga Nasem Merauke.
 
Salah seorang korban, Antonius Kanis Basik Basik (26) warga Lampu Satu mengatakan mereka berangkat dari Pantai Lampu Satu Merauke pada Kamis (6/2) sekitar pukul 10.00 WIT, menggunakan satu speed boat bermesin ganda 40 PK dengan tujuan ke Kadawa Papua Neuw Guinea (PNG).

“Kami ke sana tujuannya mau beli teripang dan gelembung ikan di Kadawa, PNG. Kami punya bos Koko Alex,” terang Antonius Basik-Basik kepada Bintang Papua, Sabtu (8/2) malam. 

Dilanjutkan, speed boat tiba di Pos TNI AL Torasi sekitar pukul 13.00 WIT. Personil Posal Torasi lakukan pengecekan dokumen serta barang bawaan dan selanjutnya diijinkan untuk melintas.

Sekitar pukul 16.00 WIT, ketika speed boat warga Merauke melintas di perairan laut Karu PNG, mereka melihat tiga speed boad dari arah yang berlawanan. Dan setelah mendekat diketahui speed boat dari lawan tersebut adalah tentara PNG.
“Kami lihat 3 speed boat dari depan, kami balik arah mau kembali ke Torasi, karena takut. Tapi salah satu mesin kami mati, jadi speed boad tentara PNG dapat kami. Mereka bawa kami ke rip, mereka periksa kami dan disuruh turun dan berlutut,” kisahnya.

Ke-10 warga Merauke itu digiring ke ‘rip’ atau karang/daratan di tengah laut. Ke-10 warga itu diperintahkan untuk berlutut di atas rip, sambil tentara PNG menodongkan senjata. 

Usai diperiksa, menurut Antonius, tentara PNG yang menggunakan 3 unit speed boad melakukan tindakan perampasan uang Kina (PNG) 160.000 atau sekitar Rp720 ribu, rokok 1 karton (bal) dan BBM 2 jerigen milik mereka. 

“Abis mereka ambil, saya coba minta kembali jerigen, tapi mereka maki. Kemudian mereka baku bicara, kemudian 1 tentara turun, langsung dia buka-buka dua jerigen, dia tuang dalam speed itu, langsung dia bakar dalam speed itu. Ada empat mesin, dua mesin tinggal dalam speed, semuanya 40 PK,” akunya.

Usai melaksanakan aksi pembakaran tersebut, ketiga speed boad tentara PNG pergi meninggalkan korban menuju arah muara sungai Torasi tanpa memperdulikan keselamatan warga Merauke.

“Kami usaha siram, tapi tidak bisa. Akhirnya kami hanya berdiri di atas rip. Roby sudah berenang duluan menuju darat dan kemudian kami juga ikut berenang, tapi sudah tidak lihat Roby lagi,” tuturnya.

Sepeninggal tentara PNG, seluruh penumpang speed boad berusaha berenang ke pantai namun hanya 5 orang, yakni Antonius Basik Basik, Yakobus Mahuze, Andreas Mahuze, Silvester Basik Basik dan Maya Gebze yang berhasil tiba di pantai Karu PNG sekitar pukul 20.00 WIT.

“Arus juga sudah kencang, dari rip ke bibir pantai sekitar 5 KM, setelah rip Karu tidak ada rip lagi, jadi kami usaha berenang saja. Koko Alex, Ferdi, Verdy dan Kaka John tidak tahu berenang, jadi kasih spiker (bodi salon) ke mereka, lalu saya, Yakobus dan Silvester dorong mereka dari belakang,” ceritanya.

Sambung Antonius Basik Basik, karena kelelahan, mereka tidak dapat lagi membantu teman-temannya yang tidak bisa berenang itu. Dia terpaksa meninggalkan rombongan yang lagi berenang itu, kemudian disusul oleh Yakobus dan Silvester.
Usai melapor di Posal Torasi pada pukul 10 malam, pada Jumat, (7/2), sekitar pukul 08.00 WIT, Antonius Basik Basik dan Yakobus Mahuze berangkat menuju Lampu Satu Merauke dari Posal Torasi dengan menumpang speedboat milik warga lain. Mereka mengambil speedboat cadangan dan kembali ke Torasi bersama keluarganya guna menjemput 3 orang temannya yang masih di Posal Torasi, sekaligus melaksanakan pencarian terhadap lima orang yang belum ditemukan.
“Waktu itu, kami tidak baku lihat lagi, sudah gelap, kami juga tidak tahu berapa orang yang selamat sampai darat. Kami juga tidak tahu siapa yang duluan sampai darat. Kami terpisah semua, nanti sudah di darat baru kami baku panggil. Kami baru tahu kami hanya 5 orang. Itu sekitar jam 8 malam, sampai di Pos Torasi jam 10 dan melapor,” terangnya.

Sementara korban lainnya, Yakobus Ngge Mahuze menuturkan, tentara PNG yang menggunakan 3 speed boat itu kurang lebih 12 orang, 10 pria dan 2 wanita. 10 Pria membawa senjata, sedangkan dua wanita tidak membawa senjata.

“Kalau yang dorang ambil, rokok 1 karton rokok surya, terus uang Kina 160.000 dan minyak dua gen. Mereka kasih pindah ke speed mereka. Mereka bawa senjata, 10 orang itu pakai senjata semua. Dari laut kalau kami berenang sampai darat sekitar 3 jam, jam 8 malam sampai pantai,” kisahnya.

Menurut dia, mereka sudah biasa masuk ke daerah itu dan tidak bertemu patroli tentara PNG, tetapi Kamis sore kemarin, mereka cukup sial sehingga ketemu dengan patroli tentara PNG.

“Kami tidak terkandas, mesin satunya mati. Kami bawa muatan juga lumayan berat jadi, kami bawa BBM 3 drum, dan jerigen 30 liter itu ada 20 jerigen semua, barang yang lain campuran beras, tepung, itu kami punya persediaan untuk disana, biasanya kami disana seminggu,” tandasnya.

Hingga berita ini diturunkan, korban Alexander Tjoa, Ferdi Tjoa, Roby Rahel, Jhon Kaize dan Vikar belum diketahui keberadaannya. Dan informasi yang dihimpun wartawan, anggota Posal Torasi yang melaksanakan pengawasan di Tower, sekitar 8 kilometer sudah melihat 3 speed boad PNG menuju ke arah muara sungai Torasi dan juga melihat kepulan asap hitam yang diduga terbakarnya speed boat milik masyarakat Merauke.

Saat dikonfirmasi ke Kabid Humas Polda Papua, Kones (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono, S.IK., melalui telepon selulernya membenarkan hilangnya lima orang nelayan Merauke di Perairan Perbatasan RI-PNG tersebut. 

“Betul, ada informasi dari masyarakat yang saya  terima bahwa nelayan asal Kabupaten Merauke ditangkap oleh tentara di Perbatasan Merauke, kemudian kapalnya dibakar dan orangnya disuruh berenang dan dari 10 nelayan, 5 orang hilang kemungkinan mereka tenggelam,”  ungkapnya. Minggu (9/2) kemarin. 

Pudjo menegaskan, pihak kepolisian akan terus melakukan pendalaman apakah nelayan tersebut telah memasuki wilayah PNG atau tidak, termasuk informasi kebenaran apakah perahu mereka dibakar tentara PNG dan kemudian dipaksa berenang.


Terkait peristiwa ini, Pudjo juga menyatakan akan menyampaikan ke Kedutaan Indonesia di Port Moresby untuk meminta pertanggung jawaban atas peristiwa tersebut. Disamping itu, pihak kepolisian bersama dengan TNI dan Kedutaan Indonesia juga akan menurunkan tim pencari fakta terkait peristiwa tersebut. 
“Kami sudah punya skema yang sudah disepakati dalam joint border meeting antara PNG dan Indonesia. Dimana, salah satu pasal adalah mengenai pelintas batas dan pelanggarannya, namun apakah tindakan aparat keamanan di pihak masing masing telah sesuai prosedur atau tidak nanti akan kita sampaikan segera di border meeting,” ujarnya.

TNI-Polri Berhasil Gagalkan Pergerakan OPM di Mulia

Aksi kelompok TPN/OPM yang ingin melakukan penembakan terhadap aparat TNI/ Polri, dan masyarakat sipil serta pesawat pengangkut logistik di Bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya dengan posisi berada pada ketinggian, dari arah pintu angin, tepatnya di Kampung Dongobaga Kurilik berhasil digagalkan aparat TNI dan Polri, Sabtu (8/2)  siang sekitar pukul 11.30 WIT.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua, Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik., mengungkapkan, awalnya mendapat informasi dari masyarakat bahwa, Kelompok Kriminal Bersenjata tiba-tiba muncul di atas ketinggian arah pintu Bandara Mulia, tepatnya di Kampung Dondobaga Kurilik bersebelahan dengan Kampung Muara Mulia, yang rencanana akan melakukan aksi penembakan ke arah Bandara.

Dari informasi itu, tim gabungan TNI/Polri dengan jumlah pasukan sebanyak 60 personil dengan delapan mobil, yang dipimpin langsung Kapolres Puncak Jaya, AKBP Marselis dan Kasdim langsung menuju ke lokasi kejadian untuk menangkap dan menggagalkan aksi mereka. 

Setibanya di ujung Kampung Dondobaga, kelompok tersebut langsung melakukan penembakan dan aparat pun melakukan pembalasan, namun mereka sempat melarikan diri. Meski melarikan diri, aparat TNI/Polri  terus melakukan pengejaran hingga sampai di ketinggian tempat keberdaaan kelompok KKB tersebut.
“Kontak senjata sempat terjadi kurang lebih satu jam dan kelompok mereka tidak berhasil ditangkap karena mereka melarikan diri, sementara korban jiwa dari Tim gabungan TNI/Polri tidak ada,” kata Pudjo, Sabtu (8/2) pekan kemarin melalui telephone selulernya. 

Meski tidak berhasil menangkap salah satu kelompok kriminal bersenjata itu, Pudjo menegaskan, aparat keamanan terus melakukan pengamanan agar aktifitas masyarakat Kabupaten di Puncak Jaya terus berjalan tanpa ada gangguan-gangguan dari kelompok tersebut.

Pudjo mengemukakan, tujuan keberadaan KKB di atas ketinggian arah pintu angin Bandara Mulia, Kabupaten Puncak tersebut untuk jalur transportasi yang keluar masuk pesawat pengangkut logistik. Sebab, ketika jalur transporasi udara maupun transportasi darat terus diganggu, maka akan berdampak pada mahalnya harga bahan pokok.

Ditegaskan, setiap teror dan aksi yang dilakukan oleh KKB membuat para Sopir kendaraan  yang mengangkut bahan makanan pokok dari Wamena ke Kabupaten Puncak Jaya merasa ketakutan, sehingga satu-satunya jalur pengangkut logistik maupun bahanan makanan ke Puncak Jaya hanya menggunakan pesawat.
“Itu yang saya sampaikan merupakan teror secara  ekonomi kepada masyarakat  di Kota Mulia atau di desa-desa di Puncak Jaya tidak gampang lagi mendapatkan kebutuhan pokok,” tukasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, TNI dan Polri wajib melindungi hak hidup bagi seluruh masyarakat Kabupaten Puncak Jaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, sehingga setiap ada gangguan terhadap keamanan oleh KKB akan di respon dengan upaya penegakan hukum untuk menangkap para pelakunya. 

Namun tanpa bantuan dari masyarakat, aparat TNI/Polri untuk mencegah pergerakan maupun penangkapan terhadap para pelaku tidak akan bisa terjadi. “Oleh karena itu, kami berharap ada bantuan masyarakat untuk membantu memberikan informasi kepada aparat keamanan yang bertugas di daerah tersebut,” harapnya 
Sementara itu, pasca terjadinya penembakan dari KKB hingga masyarakat dari Kampung Kurilik mengungsi ke Kota Mulia, mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya dengan menyerahkan bantuan beras sebanyak 500 kg dan uang tunai sebesar Rp200 juta.


“Bantuan yang kami serahkan dari Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya ini untuk meringankan beban masyarakat, karena harga sembako pasca terjadi penembakan baru-baru sangat tinggi,” ungkap Kabag Humas Kabupaten Puncak Jaya, Akbar Fitrianto saat dihubungi Bintang Papua, Minggu (9/2) kemarin.

TNI-Polri Kompak di Papua

Sejumlah posisi jabatan di jajaran Polda Papua, kembali diserah terimakan.   Upacara serah terima jabatan dipimpin langsung Kapolda Papua, Irjen (Pol) Drs. M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D.,  Jumat (8/2) pekan kemarin. 

Serah terima jabatan tersebut diantaranya, Kasat  Brimob Polda Papua dari Kombes (Pol) Godhelp Cornelis Mansnembra digantikan oleh AKBP. Matius D Fakhiri. Kemudian, Kapolres Jayapura dari AKBP Rocycke Harry Langie, S.Ik., digantikan AKBP Sondang R D Siagian., Kapolres Sorong dari AKBP E Zulpan, S.Ik., digantikan oleh AKBP Muh Anwar Nasir., dan Kapolres Kepulauan Yapen dari AKBP Muh Anwar Nasir digantikan oleh AKBP Gatot Suprasetya.

Kapolda Papua dalam amanatnya mengungkapkan bahwa serah terima jabatan di wilayah Polda Papua merupakan biasa dalam institusi Polri guna memberikan penyegaran jabatan serta pejabat lama dapat meningkatkan karirnya sebagai anggota Polri.

Dalam serah terima jabatan mulai dari Kasat Brimob Polda Papua yang kini dipimpin oleh AKBP Matius D Fakhiri. Di mana, Sat Brimob Polda Papua ini merupakan Saker terbesar dengan jumlah hampir 2.000 anggota yang tersebar di seluruh Papua dan juga merupakan bantuan pengukur Polda Papua, sehingga kedepan harus ditingkatkan.

Namun secara khusus, kepada Kapolres Jayapura Roycke Harry Langie, S.Ik., M.H., yang merupakan rusuk dari Kota Jayapura punya peran sangat penting dan kinerjanya yang selama ini telah memberikan yang terbaik. “Saya merasa bangga karena Kabupaten Jayapura sudah aman selama kepemimpinan pak Roycke sehingga saya menyampaikan selamat yang di promosikan sebagai Wadir Reskrim Umum di Polda Metro Jaya. Ini merupakan jabatan yang sangat strategis dan diharapkan bisa terus ditingkatkan,” harapnya.
 
Usai serah terima jabatan tersebut, menjadi kenangan manis bagi AKBP Roycke Harry Langie yang selama ini menjabat sebagai Kapolres Jayapura. Di mana, usai sertijab tersebut, Ia di sambut dan dibopong puluhan anggota TNI dari kesatuan Yonif 751/Raider. 

Mereka bersama ratusan anggota Polres Jayapura membopong serta mengarak mantan Kapolres Jayapura sambil membawa bendera merah putih dari arah gedung utama Mapolda Papua menuju ke arah keluar jalan Raya dengan diiringi sorakan dan yel yel pemberi semangat. Penyambutan ini spontan terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga patut dicontoh bagi para Kapolres lainnya.

Perarakan ini juga merupakan wujud hubungan baik dan kekompakan antara TNI-Polri  dalam menjaga kedaulatan dan keamanan di NKRI. Pasalnya, selama kepemimpinan AKBP Rocyke Harry Langie di Polres Jayapura, TNI-Polri dapat bersatu dan saling menjaga persaudaraan yang begitu dekat dan erat di wilayah hukum Polres Jayapura.


Tidak hanya itu, Pemerintah Daerah serta masyarakat Kabupaten Jayapura merasa bangga karena situasi Kabupaten Jayapura selama kepemimpinannya dapat terjaga dengan baik tanpa ada gangguan.

Kamis, 06 Februari 2014

Apa OPM Jenuh Perjuangkan Ideologinya?

Banyaknya kasus perampokan serta penculikan dengan pemerkosaan dan pemerasan terhadap keluarga korban. Pembakaran juga terjadi terhadap perusahaan yang menolak dimintai uang, hal ini mengarah ke kriminal murni. Urusan perut mungkin salah satu masalah utama hingga hausnya kekuasaan dari masing-masing kelompok Gerakan Separatis Papua Bersenjata (GSP B) yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM) ini.

“Sekarang mereka tidak murni, banyak kelompok yang menculik belasan gadis diperkosa terus minta emas dari ayahnya, sering menembaki masyarakat, membakar perusahaan yang menolak dimintai uang. Oleh karena itu kami menyebutnya sebagai kelompok bersenjata bukan OPM,” Ungkap Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo Selasa 4 Januari di Hotel Diraja, Jakarta kemarin.


Hal ini berbanding terbalik dengan awal perjuangan mereka yang menyerukan ideologi kemerdekaan untuk Papua. Ada banyak faktor yang membuat tren beralihnya perjuangan ideologi ke kriminal. Ketidakadanya kesejahteraan bagi pejuang OPM sebagai salah satu faktor. Pucuk pimpinan mereka juga sudah memilih bergabung ke NKRI seperti yang dilakukan oleh Daniel Kogoya.
Mereka mulai sadar banyaknya pembangunan yang saat ini dilakukan di daerah Papua dan Papua Barat yang mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga kesejahteraan rakyat Papua meningkat. Pemekaran wilayah sehingga pertumbuhan pembangunan lebih merata meskipun menimbulkan peluang-peluang baru untuk para pejabat bisa melalukan korupsi.


Pemerintah setempat juga harus menyadari jangan hanya memikirkan perutnya sendiri dengan menggerogoti ABPD. Dengan status otsus pemerintah pusat sangat besar menggelontorkan dana untuk kesejahteraan masyarakat. Buat laporan yang transparan dan akuntabel sehingga masyarakat tidak menjadi korban.

OPM berfikir kembali kenapa mereka juga tidak mendapat hak kesejahteraan dimana yang menjadi pejabat di Papua juga sebagian besar orang asli Papua yang notabene teman mereka sebagai orang asli Papua. Tapi kenapa malah ingin memperkaya diri sendiri?

Entri Populer