Jumat, 11 Juli 2014

PAPUA MENANTI PEMIIMPIN UNTUK BANGSA INDONESIA





Papua dalam pesta rakyat tanggal 9 Juli 2014 yaitu pemilihan prisiden dan wakil presiden Republik Indonesia telah berlangsung dengan aman. Situasi di Papua relatif kondusif, aktifitas masyarakat dan pemerintahan kembali seperti biasa.

Pilpres 2014 untuk menentukan presiden pilihan rakyat Indonesia antara pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta) dan Joko Widodo - Jusuf Kalla (Jokowi - JK). Mereka semua merupakan putra-putra terbaik bangsa Indonesia yang akan memimpin dan menentukan arah serta masa depan bangsa Indonesia tercinta. Pada 22 Juli 2014 mendatang KPU akan memgumumkan pasangan yang akan memimpin Indonesia untuk 5 tahun ke depan.

Presiden adalah simbol resmi negara Indonesia. Presiden harus memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidangnya serta mampu bergerak melakukan aksi nyata membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik. Pemimpin harus bersikap sebagai  pendorong, penuntun, dan pembimbing. Asas utama kepemimpinan Pancasila adalah : Ing Ngarsa Sung Tuladha: Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya, Ing Madya Mangun Karsa: Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya dan Tut Wuri Handayani: Pemimpin harus mampu mendorong orang–orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.

Antusias masyarakat Papua untuk menyukseskan pesta demokrasi yaitu Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 9 Juli 2014 lalu sangat tinggi. Banyak isu-isu menyesatkan dari klompok-kelompok kecil yang ingin menggagalkan suksesnya pesta demokrasi di Papua tidak terbukti berkat kerja keras dan kerjasama Polda Papua dan Kodam XVII/Cenderawasih.

Masyarakat Papua sangat mengharapkan sosok pemimpin yang dapat membawa kemajuan di tanah Papua. Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera. (SP/99)

Senin, 07 Juli 2014

TNI SIAP KAWAL PESTA DEMOKRASI DI TANAH PAPUA




Seperti yang telah diinstruksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 mendatang, TNI di wilayah Timur Indonesia siap menjaga keamanan dan kelancaran Pilpres Tahun 2014.

Kodam dan Polda Papua mulai hari Minggu menyatakan siaga satu. Situasi di Papua secara umum kondusif, namun ada segelincir kelompok yang berbeda pandang dengan NKRI hendak megganggu dan mengagalkan pelaksanaan Pilpres. Untuk mengatasi kemungkinan ancaman dan ganguan aparat keamanan telah disiagakan.

TNI Telah menyiagakan 2.340 prajurit yang terdiri dari 1 SSY dengan 31 SST dan cadangan 11 SSK. Untuk Kekuatan siaga satu Kodam menyiapkan 9 SSY dan 28 SSK, sedangkan pengamanan daerah rawan ( Pamrahwan ) dan pengamanan perbatasan Pulau Terluar (Pamtas) disiapkan sebanyak 2.774 personel.

Aparat TNI dan Polri akan menindak tegas pelanggaran hukum apabila terjadi aksi kekerasan, perusakan, pembakaran dari pihak-pihak yang ingin menggagalkan kelancaran pelaksanaan Pilpres. Tidak ada toleransi lagi kepada kelompok-kelompok yang hendak menggagalkan jalannya pesta demokrasi di Indonesia.

Masyarakat Papua diharapkan tidak terpropokasi aksi-aksi kelompok yang tidak bertanggung jawab. Gunakan hak suara untuk memilih calon Presiden dan Wakil Presiden tanggal 9 Juli mendatang sesuai dengan hati nurani masing-masing, sehingga tercipta masyarakat Papua yang bangkit, mandiri dan sejahtera. (SP/99)

Kamis, 03 Juli 2014

Kelompok Kriminal Bersenjata Berulah di Pasar Central Yotefa Abepura Papua




Tewasnya dua anggota Polisi yang dilakukan Klompok Krimnal Bersenjata (KKB) membuat gempar pedagang dan pengunjung Pasar central Yotefa, Abepura kota Jayapura, Papua. Rabu, 2 Juli 2014.

Kejadian bermula ketika anggota Pos Patmor 04 Tanah Hitam mendapat informasi dari masyarakat bahwa di sekitar pasar Yotefa terdapat kegiatan judi dadu yang meresahkan dan mengganggu aktifitas pedagang serta pengunjung. Sekitar pukul 15.30 Wit dua anggota Pos Patmor Brigpol Syamsul Huda dan Brigpol Asriadi mendatangi lokasi judi dadu. Sesampainya di TKP, anggota Pos Patmor 04 Tanah Hitam menegur agar kegiatan judi dihentikan, namun para penjudi menolak untuk berhenti dan tidak mau bubar.

Para pejudi memangil rekannya yang merupakan Kelompok Kriminal Bersenjata dan terjadi bentrok. Karena kekuatan tidak berimbang ke dua anggota Polisi di kurung dan ditusuk serta di hantam benda tumpul.

Brigpol Asriadi mengalami luka tusuk di bagian perut kiri, luka dibagian hidung, luka dikepala, luka sayat di bagian tangan dan patah tulang pinggang, hingga mengakibatkan tewas ditempat dan merampas senjata SS1 yang dibawa korban. Sedangkan Brigpol Syamsul Huda mengalami luka di bagian kepala, luka sobek dibagian telinga yang nyaris putus, patah kedua tangan dan luka sobek pada paha kanan, hinga sekarat dan meninggal dirumah sakit bayangkara. 

Kelompok Kriminal Bersenjata tergolong sadis dan selalu meresahkan masyarakat. Polisi telah memasang garis polisi di TKP. Aparat Kepolisian dibantu TNI mengejar pelaku dan aktifitas di sekitar pasar Yotefa ditutup sementara dan sejumlah pertokoan juga masih tutup, warga takut berjualan dan memilih berdiam diri di rumah. (SP/99)

Selasa, 01 Juli 2014

Peringatan 1 Juli Di Tanah Papua



Bagi masyarakat Papua, 1 Juli merupakan hari yang bersejarah dan merupakan hari yang dinanti-nantiterutama masyarakat yang berada diwilayah Sentani yaitu masyarakat di Kampung Asei. Pulau Asei merupakan pulau kecil yang terletak di depan Danau Sentani, Jayapura.

Keunikan yang terdapat di Pulau Asei yaitu masyarakat Pulau Asei merupakan seniman lukis, pelukis di Pulau Asei berbeda dengan pelukis kebanyakan di wilayah Indonesia lainnya. Dipulau Asei pelukis menggunakan kulit kayu sebagai pengganti kanvas. Kulit kayu yang digunakan hanya terdapat di Papua yaitu kulit kayu khombouw. Media kulit kayu sudah dipergunakan sejak tahun 1980-an yaitu sebagai pakaian, celana, sebagai alas untuk meletakkan mas kawin yaitu kapak batu dan kulit kayu juga digunakan sebagai pembungkus jenazah. Dengan perkembangan jaman dan berkurangnya populasi kayu khombouw, masyarakat Kampung Asei hanya menggunakan kulit kayu sebagai media untuk melukis.

Untuk mendapatkan bahan kulit kayu yang bagus, terlebih dahulu kulit kayu khombouw dicuci untuk menghilangkan getahnya, kemudian dipukul-pukul hinga lunak kemudian dijemur. Proses penjemuran dibutuhkan waktu sekitar 1 hari, setelah benar-benar kering kulit kayu dapat digunakan. Masyarakat Kampung Asei melukis berbagai motif, diantaranya motif Rosindale dan motif Yoniki. Motif Rosindale hanya dapat ditemui di rumah Ondoavi/ kepala suku, motif Yoniki biasanya berbentuk simbul bulat yang mempunyai makna kebersamaan. Dalam melukis masyarakat pulau Asei mengunakan pewarna alami. Warna hitam dibuat dari arang dan dicampur dengan minyak kelapa, Warna putih dibuat dari kulit kerang dan sagu dan warna merah terbuat dari tanah liat atau batu merah. Masing-masing warna memiliki lambang yaitu warna hitam melambangkan kematian,  warna putih melambangkan kebesaran suku dan warna merah melambangkan keperkasaan suku.

Untuk menjangkau Pulau Asei sangat mudah dapat menggunakan perahu dari Danau Sentani. Di Pulau Asei terdapat Gereja tertua di Jayapura, Gereja tersebut berada dipuncak bukit Pulau Asei. Pada tahun 1855 misionaris dari Jerman yang bernama W. Ottow Carl dan Johann G. Geissler memberitakan masuknya Injil dari Utara Papua sampai Teluk Youtefa hingga masuk ke pedalaman Pegunungan Cycloop dan pada tanggal 1 Juli 1928 Injil pertama kali diberitakan masuk di Pulau Asei.

Sebelum perang dunia ke 2, Gereja di dirikan dipingir pulau dengan konstruksi bangunan yang sederhana. Namun ketika terjadi perang dunia ke 2 dimana terjadi perebutan Pasifik dari Jepang yang dipimpin oleh Jenderal Douglas Mac Arthur, Pulau Asei menjadi sasaran yang akan diserang Sekutu.Pulau Asei dan Gereja pun hancur sehingga masyarakat meninggalkan pulau.

Setelah keadaan aman, masyarakat kembali ke Kampung Asei. Berkat kerja keras dan kebersamaan selama 7 tahun masyarakat Asei berhasil mendirikan Gereja hingga pada tanggal 1 Januari 1955 Gereja diresmikan. Kini Gereja berdiri dipuncak bukit Pulau Asei dan setiap tanggal 1 Juli diperingati sebagai hari pengkabaran Injil di Gereja Asei, semua umat datang merayakan upacaraakbar Injil di Gereja tersebut. Masyarakat Papua memperingati 1 Juli 2014 sebagai peringatan hari pengkabaran Injil di Pulau Asei ke 86 tahun. Diharapkan dengan masuknya Injil dapat mematahkan kuasa umat dan mendatangkan hidup bagi umat manusia serta menerangi kegelapan, kekafiran umat manusia sehingga tercipta keharmonisan di tanah Papua menuju Papua bangkit, mandiri dan sejahtera.(SP/99)



Entri Populer