Kamis, 19 Juni 2014

Festival Danau Sentani (FDS) Bukti Terpeliharanya Persatuan, Kesatuan dan Tegaknya NKRI di Tanah Papua






Festival Danau Sentani (FDS) merupakan festival pariwisata tahunan yang diselenggarakan sejak tahun 2007 di sekitar Danau Sentani, di Pantai Kalkote Kampung Asei Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.

Festival Danau Sentani diadakan pada pertengahan bulan Juni tiap tahunnya selama lima hari berturut, FDS tahun 2014 merupakan festival yang ke-VII, kegiatan ini dimulai pada 19-23 Juni 2014. Berbagai tarian-tarian adat mengisi festival ini seperti tarian perang khas Papua, tari Isolo, Gema Tifa Harmoni, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, melukis di atas kulit kayu dan sajian berbagai kuliner khas Papua.

Sesuai tema FDS VII tahun 2014 ini yaitu “Budayaku Hidupku” ini menunjukan bukti terpeliharanya persatuan, kesatuan dalam bingkai NKRI di antara sesama suku, ras, agama serta menunjukkan jati diri masyarakat Papua khususnya masyarakat di Kabupaten Jayapura dalam meningkatkan seni budaya yang mereka miliki di setiap kampung dan suku yang ada. Nasionalime yang sangat kental terjalin di antara sesama, mengingat di Papua terdiri dari ratusan suku-suku kecil.

Seluruh peguyuban yang ada di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura serta dari luar Papua turut memeriahkan kegiatan FDS dengan menampilkan budaya tradisional, tari-tarian tradisional yang diiringi lagu daerah.

Papua yang memiliki berbagai macam kesenian dan kebudayaan serta keindahan alam yang mempesona dapat dijadikan daya tarik dalam mengembangkan pariwisata sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat di tanah Papua. Diharapkan sebagai anak bangsa dapat menjaga dan melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada di Papua agar tidak punah dan hilang karena dimakan oleh jaman atau karena di klaim oleh Negara lain. Cintailah kesenian dan kebudayaan yang ada di Indonesia untuk generasi selanjutnya. (SP/99)

Jumat, 13 Juni 2014

Socratez Sofyan Yoman : Boikot Pilpres Merupakan Perbuatan Tercela Dan Tidak Sesuai Dengan Alam Demokrasi di Papua.




Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman menegaskan sebagai hamba Tuhan, setiap orang mempunyai hak Demokrasi untuk memilih dalam pemilihan umum tanggal 9 Juli 2014 mendatang, demokrasi itu tumbuh dengan tidak ada paksaan. Memilih tergantung dari masing-masing sesuai dengan hati nuraninya.

Memboikot pemilu adalah cara-cara lama yang tidak patut diterapkan di Papua, karena dapat menciderai hak asasi setiap orang. Rakyat Papua harus diberikan kebebasan memilih tanpa rasa takut. Siapapun yang dipilih dalam pemilihan nanti itu merupakan hak pribadi setiap individu untuk memilih pemimpin Bangsa Indonesia. 

Diera globalisasi saat ini  dengan keterbukaan informasi dan komunikasi rakyat sudah pintar menentukan pilihan yang sesuai dengan hati nuraninya masing-masing. Setiap orang dapat mengakses informasi tentang Pilpres di semua media massa, baik media cetak ataupun media sosial lainnya.

Menurut Soyan Yoman, memboikot Pilpres tidak sesuai dengan alam Demokrasi di Papua saat ini, nilai-nilai demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berekpresi merupakan hak rakyat Papua. Secara tidak langsung rakyat akan memilih pemimpin bangsa Indonesia yang biasa membawa Papua menuju Papua Bangkit Mandiri dan Sejahtera. Jangan ancam rakyat Papua yang dapat menimbulkan ketakutan, biarkan dia memilih sesuai hati nuraninya. (SP/99)

Kamis, 05 Juni 2014

Kelompok Kriminal Bersenjata Berulah Lagi di Perbatasan RI-PNG



Penembakan terjadi lagi di daerah Perbatasan RI-PNG Skow Wutung, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata yang terjadi pada Selasa 3 Juni 2014 Pukul 13.00 Wit yang mengenai Prada Malik anggota Pamtas dari Yonif 623/BWU.

Setelah sempat ditutup sementara akibat terjadi penembakan pada rabu 16 April 2014 Pukul 13.13 Wit yang mengenai Saudara Heri (20 Tahun) karyawan Toko Nayak pasar Batas di jalan RI-PNG Skow Wutung, kini pintu lintas batas tersebut dibuka secara resmi oleh kedua negara pada Selasa 3 Juni 2014 sekitar pukul 13.00 WIT, acara pembukaan pintu lintas batas tersebut diwarnai aksi penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata dari arah zona netral. Akibat penembakan itu, seorang anggota TNI bernama Prada Maulana Malik dilaporkan terkena serempet peluru di bagian paha kanannya sehingga harus dilarikan ke Puskesmas Koya Barat dan selanjutnya dievakuasi menuju RS Marthen Indey Jayapura.

Kejadian penembakan itu bermula saat acara sedang berlangsung, kemudian sekitar 45 menit acara berlangsung tiba-tiba terdengar suara tembakan dan diprediksi arah tembakan datangnya dari PNG. Seorang anggota TNI dari patroli reaksi cepat dilaporkan terkena serempet peluru dan mengenai bagian bokongnya kemudian langsung dievakuasi ke rumah sakit.

Pasca penembakan itu situasi dan aktivitas masyarakat di perbatasan baik itu masyarakat Indonesia maupun PNG tetap normal bahkan sudah kembali melakukan aktivitasnya sebagaimana biasanya. Termasuk aksi penembakan itu sama sekali tidak mengganggu acara pembukaan pintu lintas batas.

Selasa, 03 Juni 2014

Organisasi Papua Merdeka Stop Bikin Kekerasan





Plt. Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua Frits Ramandey,S.Sos,MH mengecam aksi penembakan yang terjadi pada hari Jumat (30/5) lalu di Kabupaten Lanny Jaya yang menyebabkan seorang anggota Kepolisian BKO Polres Lanny Jaya Bripda Irvan meninggal dunia. 

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua menyampaikan kepada seluruh Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM), baik yang ada di wilayah pegunungan tengah, seperti di Lanny Jaya, di wilayah pesisir pantai, perbatasan stop bikin kekerasan, cara-cara kekerasan yang dilakukan terhadap aparat TNI/Polri dan warga sipil harus dihentikan, kekerasan sangat ditentang oleh masyarakat internasional, dan tidak akan menyelesaikan masalah malah akan melahirkan masalah baru. Komnas HAM mempunyai data, hampir 30 orang menjadi korban, akibat dari aksi kekerasan sipil bersenjata.

Perlu diingat pemilihan umum presiden (pilpres) tanggal 9 Juli 2014 mendatang merupakan tanggug jawab dan hak setiap warga Negara untuk berpartisipasi untuk mengunakan hak suaranya memilih pemimpin Indonesia dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tegas,’’ Frits Ramandey.

Komnas Ham yakin Polda Papua dengan jaringan dan peralatan yang sangat canggih mampu mengidentifikasi siapa pelaku penembakan di Lanny Jaya, peristiwa penembakan terjadi di tengah masyarakat, potensi untuk diindetifikasi sangat mudah dan polisi sudah mengetahui siapa aktor dibalik penembakan ini. Polda Papua mengedepankan pendekatan-pendekatan yang persuasif, namun disayangkan pendekatan seperti ini, malah sering disalahartikan oleh kelompok-kelompok yang berbeda pandang dengan NKRI.

Wakapolda Papua, Brigjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw menegaskan pelaku penembakan terhadap Brigpol (anumerta) Irvan diindikasi salah satu anggota dari kelompok PW yang sering mengganggu keamanan di Lanny Jaya. Kapolda Papua telah telah menunjuk Direskrimum, Kasat Brimob Polda Papua, termasuk Kapolres setempat untuk segera mengejar pelaku. Pelakunya sudah jelas kalau yang di atas siapa lagi kalau bukan anggota Kelompok Bersenjata yang berinisial PW, kelompok PW yang ada di sana dipastikan berjumlah lebih dari 10 orang karena telah ada pembagian tugas dan spesifikasi tersendiri. Tim operasi yang dipimpin oleh Disreskrimum akan menyelidiki kasus tersebut hingga bisa diungkap siapa sebenarnya dalang di balik penembakan tersebut. (SP/99)

Entri Populer