Kamis, 06 Februari 2014

Sering bikin onar, OPM bukan gerakan ideologis tapi kriminal

Organisasi Papua Merdeka (OPM) seringkali dianggap sebagai orang-orang di balik penyerangan polisi dan warga di Papua. Namun sedikit demi sedikit gerakan ini berubah haluan.

Jika sebelumnya kekerasan yang mereka lakukan demi kemerdekaan Papua, kini telah berubah arah. Polisi bahkan memandang gerakan mereka sebagai gerakan kriminal, bukan lagi bermuatan ideologis.

"Sekarang mereka tidak murni, banyak kelompok yang menculik belasan gadis diperkosa terus minta emas dari ayahnya, sering menembaki masyarakat, membakar perusahaan yang menolak dimintai uang. Oleh karena itu kami menyebutnya sebagai kelompok bersenjata bukan OPM," jelas Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo. Selasa (4/2).

Selain itu, di Papua ada beberapa kelompok besar yang sering membuat ulah. Mereka ini punya daerah-daerah kekuasaan tersendiri.


Menjelang pemilu nanti, Polda Papua tetap mengikutsertakan masyarakat sebagai pembantu Polri dalam melakukan pengamanan. Apalagi dikhawatirkan jika para kelompok bersenjata ini memanfaatkan momen pemilu untuk kepentingannya.


"Kita melibatkan stakeholder pilkada TNI, KPI, Panwas, untuk mengamankan gerakan kelompok yang sekarang bergeser ke kriminal. 

Kapolda Akui Hanya 4 Kelompok Berjuang Merdeka

Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Polisi, Drs. M. Tito Karnavia M.A. P.hD., menyampaikan, kelompok terbesar di Papua untuk berjuang merdeka hanya terdiri dari empat kelompok.
Dikatakan, ke empat kelompok besar ini diantaranya, Pertama kelompok Goliat Tabuni yang memiliki jaringan Kabupaten Puncak yaitu Leka Telenggen, Militer Murib. Jaringan lainnya di Timika yaitu, Teni Kwalik, Ayun Yonker Mile 71 dan yang terbesar di Kali Kopi di bawah pimpinan Teni Kwalik yang selama ini  terus melakukan penembakan.

Kemudian lanjut Kapolda, kaki lainnya dari Goliat Tabuni adalah Paniai, yaitu Jon Yogi dan Yon yang kini mereka sudah meninggal karena penyakit HIV/AIDS sehingga sekarang perjuangan di Paniai Lemah. 

Kelompok kedua, adalah kelompok Purom Okimo Wenda di Kabupaten Puncak Jaya yang melakukan penembakan mobil ambulance dan jaringannya ada di Lanny Jaya, Tolikara. “Lanny Jaya dipimpim Eni Wanimbo yang menyerang polsek Pirime,” jelasnya.

Kemudian, kelompok ketiga adalah Hans Ricard Weni yang ada di Depapre yang mengklaim dirinya sebagai ketua WPNSL yang mendaftar ke MSG kemarin lalu dengan memiliki pasukan di antaranya, Tianus Satu, David Darko di Demta, Kosmos Makory yang ada di Mamberamo Raya, Rudi Makatory, Waropen  Decky Imbiri. Kemudian, kelompok adalah Lamber Pekikir yang  ada di Kabupaten Keerom.

Khusus untuk Goliat Tabuni yang sudah menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO), Kapolda mengemukakan, bahwa Goliat Tabuni yang berada di Tigi Neri, Kabupaten Puncak Jaya tidak serta merta untuk melakukan penangkapan atau operasi karena di daerah itu ada beberapa anggota masyarakat termasuk perempuan, dan anak-anak. 

“Sebetulnya kita bisa kesana tapi untuk melakukan operasi harus memerlukan legitimasi (Dukungan)  terutama para stakeholder seperti birokrat Gubernur, Bupati dan lain-lain,” kata Wakapolda Papua kepada wartawan usai gelar pasukan dalam rangka pengamanan pemilu 2014 yang berlangsung di lapangan SPN Jayapura, Selasa (4/2) pekan kemarin. 
Dikatakan, legitimiasi para stakeholder ini apakah mereka sepakat atau tidak, sebab jikalau melakukan operasi pasti ada resiko yaitu, korban akan sangat tinggi karena senjata ketemu senjata. “Mereka besenjata kita juga bersenjata dan di tengah-tengah itu masih ada beberapa anak-anak dan perempuan, ini yang kami tidak ingin ada korban.  Goliat Tabuni pun maunya tidak korban tapi kalau sudah ada kesepakatan pasti ada resiko baru kita akan melakukan operasi,” katanya

Lanjut Kapolda, upaya untuk melakukan pendekatan para kelompok yang berjuang merdeka ini hanya perlu legitimasi dari tokoh-tokoh di Papua. “Kami sebagai aparat keamanan tetap mengedapkan persuasif terutama tokoh-tokoh, yang mana sekarang ini tokoh-tokoh pimpinan dari Provinsi Papua yang berasal dari daerah Pegunungan, Ketua DPRP, Wakil Ketua DPRP, Ketua MRP dan tokoh lainnya untuk meminta mereka menyelesaikan dan kalau mereka menyatakan bahwa kami menyerah dan silahkan laksanakan penegakan hukum itu tidak masalah,” ungkapnya.
Pernyataan Gubernur bahwa mereka itu bukan meminta merdeka tapi merupakan kelompok kriminal, Kapolda mengakui bahwa kelompok senior-senior di Kabupaten Puncak Jaya maupun di daerah lainnya berjuang untuk merdeka seperti Goliat Tabuni.

Namun di bawah pimpinan dari Goliat Tabuni khususnya, hanya semacam fenomena eforia yang mana mereka memiliki senjata menyerang polisi akan mendapatkan simbol atau  status mereka meningkat, yang selanjutnya simbol ini digunakan untuk meminta uang kepada masyarakat.
Untuk itu, pihaknya mendorong kepada pimpinan yang berasal dari daerah Pegunungan seperti, mulai dari Gubernur, Ketua DPRP, Wakil Ketua DPRP, Ketua MRP. “Nah, pak ketua DPRP khususnya berencana akan naik ke atas termasuk kalangan tokoh-tokoh gereja untuk melakukan dialog dengan kelompok-kelompok itu, dengan prinsip dalam kerangka NKRI,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPR Papua, Deerd Tabuni, S.E., M.Si., menegaskan bahwa pihak aparat tidak perlu dilakukan penambahan pasukan di daerah pegunungan apalagi di momen pemilihan. “Kalau dilakukan operasi silahkan saja, tapi saya minta pemilu agar menjaga suasana dan tidak memancing masyarakat, dengan cara tidak melakukan penambahan pasukan,” pungkasnya kepada wartawan di ruang kerjanya. 

Pihaknya bersama Ketua MRP akan turun ke Puncak Jaya untuk melakukan pertemuan dengan orang berseberangan ini. “Komunikasi yang kami lakukan pertama adalah, Toga, Toda, Tokoh Pemuda, selanjutnya bagaimana bisa melakukan dialog dengan masyarakat yang berbeda pendapat tersebut,” katanya.

Dalam dialog yang dilakukan nanti, untuk membahas persoalan yang terjadi dengan cara memberikan pemahaman. “Pendekatan persuasif yang dilakukan oleh TNI dan polri sudah dilakukan dan sekarang kita dari pejabat daerah perlu juga komunikasi kepada mereka melalui gereja dan tokoh lainnya,” ujarnya.

Hanya saja, lanjut dia, perwakilan ke Puncak Jaya tidak secara langsung untuk melakukan dialog atau pertemuan dengan orang yang berbeda pendapat itu karena mereka memiliki senjata. “Hal itu kita harus melakukan cara untuk bisa ketemu dengan mereka sehingga daerah tersebut selalu aman dan kondusif,” ujarnya.


Namun jikalau mekanisme atau berbagai macam cara yang dilakukan untuk bertemu dengan kelompok yang berbeda pendapat ini, tentu harus ada mekanisme yang jelas jika polisi melakukan tindakan. “Negara ini punya Negara hukum dan tidak boleh sembarang melakukan penangkapan”
“Saya minta secara tegas tidak boleh dilakukan penangkapan dengan tidak terhormat karena Papua berbeda dengan daerah Jawa. Tangkap harus proses hukum sehingga Negara ini benar-benar ada hukum yang adil,” pungkasnya

Senin, 03 Februari 2014

10 OPM Masih Ditahan

JAYAPURA – Kelompok OPM yang berhasil disergap oleh aparat TNI-Polri dalam kontak senjata di Kampung Sasawa Kabupaten Kepulauan Yapen diketahui dibawah pimpinan Fernando Worabay, yang disebut sebagai Panglima TPN/OPM wilayah Yapen Bagian Barat.

Sebagaimana diberitakan bahwa 11 OPM berhasil diamankan dalam kontak senjata oleh TNI dan Polri di Kampung Sasawa, Kabupaten Kepulauan Yapen tersebut, namun yang sebenarnya 10 orang dan 1 OPM yang meninggal dalam kontak senjata antara Kelompok OPM dan aparat TNI-Polri.
Dandim 1709/Yapen Waropen, Letkol Inf. Dedi Iswanto saat dihubungi  melalui telepon selulernya, Senin (3/2) kemarin mengungkapkan  bahwa penyergapan yang dilakukan di Kampung Sasawa tersebut karena, tempat telah dijadikan markas dan latihan kemiliteran yang dipimpin langsung oleh Fernando Worabay.

“Mereka itu ada sekitar 500 orang dibawah kelompok Fernando Worabay yang disebut sebagai Panglima TPN OPM di wilayah Yapen Bagian Barat, dan kebetulan Kampung Sasawa tersebut tempat tinggal Fernando sehingga dijadikan markas dan latihan militer serta mereka selalu mengintimidasi pemuda masyarakat setempat untuk harus ikut mereka,” tukasnya.

Namun setelah mendapat informasi bahwa mereka telah melakukan konfrensi tingkat tinggi dengan melibatkan 500 orang termasuk wilayah Yapen umumnya, maka saat itupula langsung melakukan penyergapan bersama anggota Polres Kepulauan Yapen.

“Saat dilakukan kontak senjata, 50 orang tersebut langsung lari kehutan secara terpisah, sementara Fernando dengan menggunakan baju loreng baret merah bersama anak buahnya lari dengan menggunakan speed boat menuju Kepulauan Yapen,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Pudjo Sulistyo Hartono, S.Ik., saat dihubungi Bintang Papua, mengatakan, 10 yang berhasil diamanakn tersebut, masih diamankan di Mapolres Kepulauan Yapen untuk terus melakukan pemeriksaan secara mendalam oleh Penyidik Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Kepulauan Kepulauan Yapen.

Meski dilakukan pemeriksaan terhadap ke sebelas anggota OPM yang berhasil diamankan itu, aparat kepolisian maupun TNI masih terus melakukan pengamanan di daerah yang diduga merupakan tempat Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) pada, Sabtu (1/2) kemarin lalu.

“Yang jelas secara umum situasi dan kondisi di Kabupaten Kepulauan Yapen sudah kondusif dan aktivitas masyarakat baik di Kota maupun di kampung-kampung berjalan seperti biasanya,” kata Pudjo melalui pesan singkatnya, Senin (3/2) kemarin.

Pudjo kembali menyampaikan, bahwa dari 10 orang kelompok Kriminal Bersenjata itu, masih diamankan di Mapolres Serui guna dilakukan pemeriksaan, sedangkan alasan mereka melakukan pertemuan di Kampung Sasawa tersebut belum bisa dipastikan karena mereka masih dalam tahap pendalaman oleh Penyidik Reskrim Polres Kepulauan Yapen.

Disinggung kepastian mereka kelompok mana? Pudjo berpangkat bunga tiga ini, juga pihaknya belum bisa memastikan mereka dari kelompok mana. “Masih awal sekali kalau kita mengambil keputusan mereka dari kelompok mana, yang jelas mereka masih didalami dan kalau ada hasilnya kita pasti akan kasih tahu kepada rekan-rekan,”

Minggu, 02 Februari 2014

Kapendam Bantah Aparat Pukul Jemaat Gereja di Puncak Jaya

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Lismer Lumban Siantar membantah kabar yang menyebutkan aparat telah menganiaya warga Puncak Jaya. 

"Tidak benar ada jemaat gereja yang dipaksa jalan jongkok keluar dari gereja," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (28/1).

Kapendam menjelaskan bahwa aparat gabungan TNI/Polri memang melakukan penangkapan terhadap anggota TPN-OPM atas nama Oki Talenggeng. "Kelompok TPN-OPM tersebut berlari kabur setelah melakukan penembakan terhadap aparat TNI/Polri, ada yang melarikan ke ketinggian dan untuk Oki Talenggeng, yang diperkirakan membawa senjata bersembunyi di dalam gereja," urai Kapendam.
Pihak keamanan kemudian mengepung gereja dan menunggu sampai kegiatan agama selesai. 

Setelah kegiatan agama selesai, Waka Polres Puncak Jaya Kompol Yohanes Hadud memberikan pengarahan kepada jemaat bahwa ada orang bersenjata bersenjata masuk ke dalam gereja bersembunyi. "Setelah diadakan pemeriksaan ada satu orang yang dicurigai dan sembunyi di dalam gereja," tandasnya.

Setelah dilakukan penangkapan, aparat TNI-POLRI membawa anggota TPN OPM tersebut ke depan atau di hadapan masyarakat, kemudian menanyakan kepada penduduk kampung apakah kenal dengan orang yang ditangkap dan tidak ada satu orangpun yang kenal.

"Tawanan yang ditangkap tersebut ketahuan ketika akan mengganti baju yang basah dan tidak menggunakan pakaian yang sopan untuk beribadah," tegasnya.

Kapendam juga menambahkan bahwa, ikut dalam kegiatan penangkapan tersebut Kepala Kampung Dondobaga Lasarus Wanimbo dan Gembala Gereja Dondobaga.
Sebelumnya, aparat keamanan diduga melakukan kekerasan dan menganiaya sejumlah warga di Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Seorang warga Puncak Jaya melalui pesan singkat yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, dirinya bersama dengan beberapa warga lainnya dipaksa keluar dari gereja, lalu merayap di tanah dan bahkan ada yang sempat dipukul.

"Hari Minggu (26/1) Jemaat Dondobaga masuk gereja untuk ibadah, semuanya dikasih keluar dari gereja, lalu semua jemaat dapat pukul dan disuruh merayap oleh anggota TNI," jelasnya.


Ia juga mengatakan bahwa ada dua warga masyarakat yang ikut ditangkap. Dimana akibat kejadian ini jemaat di Kulirik dan Dondobaga mengungsi ke wilayah Karubate.

11 OPM Diamankan, 2 Aparat dan Satu Warga Sipil Luka Tembak

JAYAPURA –Aksi baku tembak antara kelompok bersenjata yang diduga keras TPN/OPM dengan aparat keamanan gabungan TNI-Polri, terjadi di daerah Sasawa Kabupaten Yapen Papua, Sabtu 1 Febuari sekitar pukul 10.30 WIT. Satu anggota kelompok bersenjata tewas, sedangkan dua aparat keamanan tertembak. 

Selain menewaskan satu anggota OPM, aparat juga berhasil mengamankan barang bukti milik Yohasua, berupa senjata rakitan laras panjangan yang digunakan melakukan penyerangan terhadap aparat keamanan, serta berhasil mengamankan sebanyak 11 orang TPN-OPM lainnya yang saat itu melakukan penyerangan terhadap aparat keamanan. 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua, Kombes (Pol) Pudjo Sulistyo Hartono, S.Ik., saat dikonfirmasi Bintang Papua, membenarkan telah terjadi kontak senjata antara TNI-Polri dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tersebut. 

Dijelaskan, terjadinya kontak senjata oleh aparat TNI-Polri dan kelompok Kriminal Bersenjata tersebut karena mendapat informasi bahwa KKB melakukan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) di kawasan Sasawa Kepulauan Yapen, yang diduga dibawah pimpinan Fernando Warobai.

“Atas informasi itu, aparat keamanan yang dipimpin langsung Kapolres dan Dandim langsung menuju ke lokasi dengan menggunakan darat dan laut  lalu tiba-tiba di berondong  dengan senjata,” jelasnya pekan kemarin. 

Dari kontak senjata yang berlangsung selama beberapa menit itu, anggota polri bernama Briptu Robert salah satu anggota Pol Air Polres Yapen mengalami luka tembak di bagian lutut dan Praka Hashim salah satu anggota Kodim Yapen mengalami luka serpihan rekoset di bagian punggung, dan Marlon Bonay salah satu warga sipil yang bertugas sebagai Motoris mengalami luka tembak di bagian pinggang.

“Dari kontak senjata itu juga, aparat keamanan berhasil menewaskan satu dari kelompok mereka bernama, Yohasua Arampay (38), yang selanjutnya aparat keamanan berhasil menguasai lokasi kejadian sehingga langsung melakukan penyisiran di lokasi tersebut,” paparnya.

Usai menguasai lokasi kejadian, aparat keamanan berhasil mengamankan sebanyak 11 orang Kelompok Kriminal Bersenjata tersebut dan berhasil menyita barang bukti berupa, , senjata api rakit sebanyak 13 buah, senjata laras panjang sebanyak 11 buah,  dua pucuk senjata laras pendek, dua buah sangkur, dua buah bom Dopis, dua buah Busur, 20 anak Panah, satu Tombak, satu buah Hanphone, sejumlah pakaian loreng, dua bua bendera Bintang Kejora, sejumlah Bama dan obat-obatan lainnya. 
Pudjo menandaskan, situasi paska terjadi penembakan tersebut situasi dan kondisi di daerah Kepulauan Yapen mulai kondusif, dan aktifitas masyarakat berjalan lancar, namun aparat keamanan terus melakukan pengamanan untuk menghindari adanya balasan dari kelompok mereka.

“Situasi sekarang aman saja, sementara kesebelas orang yang sudah diamankan kini masih dalam pemeriksaan oleh penyidik Reskrim Polres Kepulauan Yapen, dan kemungkinan mereka akan dibawa ke Mapolda Papua untuk diperiksa lebih lanjut,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam pres release dari Pendam XVII/Cenderawasih  yang di diterima Bintang Papua, Minggu (2/2) kemarin menyebutkan,  patroli gabungan TNI-Polri berhasil menggagalkan kegiatan latihan militer KKB di wilayah Yapen Barat Kabupaten Kepulauan Yapen dibawah pimpinan Fernando Warobai di Kampung Sasawa Distrik Kosiwo Kabupaten kepulauan Yapen tersebut.

Setelah mendapat informasi bahwa di kampung Sasawa Distrik Yapen Barat telah berlangsung latihan militer yang dilakukan oleh kelompok KKB wilayah Yapen Barat, maka aparat gabungan TNI-Polri bergegas melaksanakan patroli gabungan untuk melakukan penyergapan, yang dipimpin langsung oleh Dandim 1709/YW Letkol Inf Dedi Iswanto dan Kapolres Kepulauan Yapen AKBP Anwar Narsim. 
Setibanya di perbatasan Kampung Mariarotu dan Kampung Kanawa tepatnya, di sungai Semboi Tim Patroli gabungan TNI-Polri mendapat gangguan tembakan dan selanjutnya terjadi kontak tembak yang menyebabkan kelompok KKB mundur kearah Pantai. 

Setelah keadaan dapat dikuasai oleh Tim Patroli gabungan TNI-POLRI selanjutnya Patroli gabungan melakukan penyisiran dan berhasil menemukan Gapura bertuliskan “Anda memasuki Zona Merah” serta satu buah bendera Bintang Kejora. 
Selanjutnya, tim gabungan melakukan penyisiran di tepi pantai dengan menggunakan Speed boat lalu tiba-tiba mendapat gangguan tembakan kembali dari kelompok KKB dan terjadi kontak tembak yang mengakibatkan Praka Nur Hasim anggota Kodim 1709/YW luka ringan (lecet/goresan dipinggang kanan bagian belakang) dan Briptu Robert Anggota Polres Yapen luka tembak di paha kanan luar serta satu orang masyarakat, sopir Speed Boat luka lecet. 

Ketika menguasai lokasi kejadian, aparat mendapat 1 orang anggota KKB tewas di tempat atas nama Yohasua Arampayai serta senjata rakitan Laras Panjang 15 Pucuk, Pistol rakitan 3 Pucuk beserta puluhan amunisi senjata, bendera Bintang Kejora 2 lembar, pakaian Loreng 22 buah, Dokumen kegiatan Konsolidasi, Struktur TNP/B dan Konferensi I standarisasi Pertahanan Nasional serta  10 (sepuluh) orang anggota KKB ditangkap dan diamankan di Polres Kepulauan Yapen untuk menjalani pemeriksaan.

 

PATROLI GABUNGAN TNI-POLRI GAGALKAN LATIHAN MILITER GSP/B DAN AMANKAN 18 PUCUK SENJATA

Patroli gabungan TNI-POLRI berhasil menggagalkan kegiatan latihan militer GSP/B di wilayah Yapen Barat Kabupaten kepulauan Yapen pimpinan Fernando Warobai pada 01 Februari 2014 di kampung Sasawa Distrik Kosiwo Kabupaten kepulauan Yapen.
Setelah mendapat informasi bahwa di kampung Sasawa Distrik Yapen Barat telah berlangsung latihan militer yang dilakukan oleh kelompok GSP/B wilayah Yapen Barat maka aparat gabungan TNI-POLRI melaksanakan patroli gabungan untuk melakukan penyergapan. Patroli gabungan dipimpin langsung oleh Dandim 1709/YW Letkol Inf Dedi Iswanto dan Kapolres Kepulauan Yapen AKBP Anwar Narsim.
Setelah tiba di perbatasan Kp Mariarotu dan Kp Kanawa tepatnya di sungai Semboi Tim Patroli gabungan TNI-POLRI mendapat gangguan tembakan dan selanjutnya terjadi kontak tembak yang menyebabkan kelompok GSP/B mundur ke arah Pantai. Setelah keadaan dapat dikuasai oleh Tim Patroli gabungan TNI-POLRI selanjutnya Patroli gabungan melakukan penyisiran dan ditemukan Gapura bertuliskan “ Anda memasuki Zona Merah “, serta satu buah bendera Bintang Kejora. Setelah sampai di kawasan KP Sasawa melakukan penyisiran di tepi pantai dengan menggunakan Speed boat tiba-tiba mendapat gangguan tembakan kembali dari kelompok GSP/B dan terjadi kontak tembak yang mengakibatkan Praka Nur Hasim anggota Kodim 1709/YW luka ringan (lecet/goresan dipinggang kanan bagian belakang) dan Aipda Robert anggota Polres Yapen luka tembak dipaha kanan luar serta satu orang masyarakat sopir Speed Boat luka lecet. Setelah kontak tembak kelompok GSP/B melarikan diri selanjutnya Tim Patroli gabungan TNI-POLRI melaksanakan pembersihan. Dari hasil pembersihan Patroli gabungan TNI-POLRI didapatkan hasil 1 Orang anggota GSP/B tewas ditempat atas nama Yohasua Arampayai serta senjata rakitan Laras Panjang 15 Pucuk, Pistol rakitan 3 Pucuk beserta puluhan munisi senjata, bendera Bintang Kejora 2 lembar, pakaian Loreng 22 buah, Dukumen kegiatan Konsolidasi, Struktur TNP/B dan Konferensi I standarisasi Pertahanan Nasional serta  10 (sepuluh) orang anggota GSP/B ditangkap dan diamankan dibawa ke Polres Kepulauan Yapen untuk menjalani pemeriksaan.

Selanjutnya korban yang terkena luka ringan akibat tembakan dirawat di KSA Kodim 1709/YW dan sampai saat ini kondisinya baik sedangkan korban tewas dari kelompok GSP/B di evakuasi menuju RSUD Kabupaten Serui.

ANGGOTA TPN OPM DITANGKAP APARAT DI KP. DONDOBAGA SETELAH MELAKUKAN PENEMBAKAN TERHADAP APARAT TNI – POLRI

Aparat keamanan gabungan TNI – Polri melakukan penangkapan terhadap anggota TPN – OPM ATAS NAMA Oki Talenggeng dari kelompok Yambi Distrik Mulia pada Minggu 26 Januari 2014 di daerah Kp. Dondobaga Distrik Mulia Puncak Jaya. Kelompok TPN OPM tersebut berlari kabur setelah melakukan penembakan terhadap aparat TNI – Polri, ada yang melarikan ke ketinggian dan untuk Oki Talenggeng salah satu anggota TPN OPM berlari masuk ke dalam yang diperkirakan membawa senjata dan bersembunyi didalam gereja. Kemudian pihak keamanan gabungan TNI- Polri mengepung gereja dan menunggu sampai kegiatan agama selesai.
Setelah kegiatan agama selesai jemaat keluar dan dilakukan pemeriksaan yang dipimpin oleh Waka Polres  Puncak Jaya Kompol Yohanes Hadud dan diberikan pengarahan kepada  jemaat bahwa ada orang  bersenjata masuk ke dalam gereja bersembunyi. Setelah diadakan pemeriksaan ada satu orang yang dicurigai dan sembunyi didalam gereja. Setelah dilakukan penangkapan, aparat TNI-POLRI membawa anggota    TPN OPM tersebut kedepan atau dihadapan masyarakat, kemudian menanyakan kepada penduduk kampung apakah kenal dengan orang yang ditangkap dan tidak ada satu orangpun yang kenal.

Tawanan yang ditangkap tersebut ketahuan ketika akan mengganti baju yang basah dan tidak menggunakan pakaian yang sopan untuk beribadah. Ikut dalam kegiatan penangkapan tersebut Kepala Kampung Dondobaga Bapak Lasarus Wanimbo dan Gembala Gereja Dondobaga. Setelah yakin bahwa orang yang ditangkap tersebut orang yang lari masuk ke Gereja beberapa saat tadi yaitu anggota TPN OPM, maka anggota TPN OPM tersebut dibawa oleh aparat keamanan. Setelah selesai Wakapolres memberikan pengarahan dan ucapan terima kasih kepada penduduk dan jemaat Gereja serta menjelaskan kepada jemaat Gereja bahwa tidak benar ada jemaat Gereja yang dipaksa jalan jongkok keluar dari Gereja. Selanjutnya tawanan dibawa ke Mapolres Puncak Jaya untuk dimintai keterangan.

Entri Populer